Dengan Bismillah Kita Mulaikan

Sabtu, 29 Oktober 2011

Wisata kepulawan riau



WISATA KEPULAUAN RIAU


Kunjungan ke Bintan menawarkan wawasan ke masa lalu terkenal sebagai serta masa depan yang menjanjikan di bidang pariwisata.
The view from the small boat that brings you to Penyengat Island.
Bintan, sebuah pulau di Provinsi Kepulauan Riau, memiliki garis pantai yang indah yang berjalan sekitar 100 kilometer, yang sebagian besar terdiri dari pantai indah berpasir putih.
Terletak naik feri 30 menit dari Batam atau 45 menit dari Singapura dengan catamaran berkecepatan tinggi, Bintan adalah yang terbesar tidak kurang dari 3.200 pulau di kepulauan Riau.
Hal ini sering digambarkan sebagai surga yang unik, di mana kehidupan sederhana dan populasi yang multikultural beberapa 200,000 orang - sebagian besar Jawa, Bugis, dan Cina - yang ramah dan hidup secara harmonis.
Bintan pada mulanya merupakan bagian dari Provinsi Riau, tetapi untuk mengakomodasi pasca reformasi sentimen separatis pemerintah dan DPR sepakat untuk spin off Kepulauan Riau sebagai provinsi yang terpisah pada bulan Juli 2004 dengan Tanjung Pinang sebagai ibukota.
The beaches in Bintan are pristine and sandyDalam mengunjungi Bintan, wisatawan yang paling dan pencari kesenangan kepala langsung ke Bintan Resort dimana hidup jarang bergerak melampaui duduk dengan kolam renang minum gin tonik di hotel-hotel mewah, snorkeling, memancing, kano dan selancar angin. bulat semua tahun cuaca cerah memungkinkan untuk kegiatan kelas seperti bermain golf, jet-ski, berlayar, menyelam dan melompat pulau.
Sebagian besar kegiatan pariwisata terkonsentrasi di pesisir utara sekitar Lagoi, sedangkan pantai timur masih belum terjamah manusia dan patut dikunjungi.
Untuk mereka yang memiliki semangat untuk fakta-fakta dan angka: ada tujuh hotel internasional, empat resor dan tiga lapangan golf bertaraf internasional dengan 36 lubang di Bintan Resort, meliputi 23.000 hektar, yang dirancang oleh Gary Player, Jack Nicklaus dan Greg Norman.
Perbandingan untuk kantong wisata Bali Nusa Dua tidak bisa dihindari tapi ini hampir tidak apel-apel-to-latihan. Sementara pulau resor adalah dengan semua langkah yang unik dan khas untuk titik berada di sebuah kelas tersendiri, Bintan memiliki kekuatan yang cukup menarik untuk menarik sejumlah besar wisatawan dari Eropa, Jepang dan Korea Selatan (dan, tentu saja, Singapura) dan perusahaan asing untuk mengadakan pertemuan tahunan mereka.
buku panduan wisatawan lokal jejak Bintan kembali ke abad ke-13, ketika pulau itu merupakan bagian dari Kekaisaran Sriwijaya megah yang sekarang Sumatera Selatan.
Sebagai data historis menunjukkan, Sri Tri Buana, anggota keluarga kerajaan Palembang, mengunjungi Kepulauan Riau pada 1290 dan bergabung dengan penguasa di pulau itu untuk mengambil alih Bintan dan kemudian menjadi rajanya.
Sejak itu Bintan telah menjadi medan perang abadi melibatkan kesultanan Malaka dan Johor, Portugis, Bugis, Aceh dan Belanda karena lokasinya yang strategis sebagai pelabuhan dan pusat perdagangan di daerah ini.
The beaches in Bintan are pristine and sandyTapi ketika Inggris di tahun 1819 ditemukan dan dikembangkan Singapura untuk menjadi pusat perdagangan regional, perawakan Bintan itu sangat berkurang. Pulau ini mengalami pembalikan permanen keberuntungan politik dan perdagangan dan saat ini tetap dibayangi oleh tetangga Batam dan Singapura.
"Pada 1980-an, para pemimpin Indonesia, Malaysia dan Singapura memprakarsai Sijori (Singapura, Johor dan Indonesia) dan Segitiga Pertumbuhan menandatangani perjanjian untuk berinvestasi di Bintan dan Batam, yang terakhir sekali sebuah pulau sepi yang diubah menjadi sebuah kawasan berikat khusus, "ujar, Abdul Waahab, general manager dari Nirwana Gardens Singapura. (Lihat juga Catatan Perjalanan.)
Singapura juga menandatangani perjanjian khusus dengan Indonesia untuk sewa pantai utara dan mengembangkannya menjadi resor bernama Bintan Resort. Grup Salim kuat kemudian dibawa untuk bergabung dengan kelompok usaha yang sama kuat Singapura, Sembawang, untuk mengembangkan daerah tersebut.
Sekarang fitur infrastruktur yang sangat baik dan merupakan rumah bagi mewah tersebut dan entitas yang eksklusif seperti Nirwana Gardens, Club Mediteranee, Bintan Lagoon dan Banyan Tree.
Wahab mengatakan: "Sekitar 5.000 orang bekerja di resor ini."
Pada suatu waktu Bintan investasi besar datang melihat cara mereka, termasuk kawasan industri bahwa perusahaan-perusahaan Jepang dan Amerika banyak digunakan sebagai basis manufaktur mereka.
Untuk beberapa alasan, tidak sedikit krisis ekonomi global, bahwa keharuman telah sedikit memudar. Namun Bintan yang tidak mencegah untuk tetap sebagai tujuan wisata yang populer dengan merek sendiri dari daya tarik.
Penyengat Island is a must-visit as it features the 200-year-old grand mosque of the Sultan of Riau; One finds interesting remnants on Penyengat Island; Bintan Elephant Park excites children
Tempat Menarik di Bintan
  1. Tanjung Pinang
    Kota pelabuhan yang sibuk dan utama, di mana pedagang dan kapal penumpang link seluruh wilayah Indonesia dengan Singapura. Dalam banyak hal, kota ini mengingatkan kita Bogor di Jawa Barat sekitar 20 tahun yang lalu, karena mengubah diri dari sebuah tempat kuno dan kasar menjadi kota penuh dengan ATM dan kios internet.
  2. Uban Tanjung
    Kota terbesar kedua setelah Tanjung Pinang, sebelah barat pantai utara Pulau Bintan. Seiring pantai adalah boardwalk menarik disebut "Pelantar" dengan rumah-rumah, akomodasi dan restoran yang dibangun di atas laut, di mana Anda dapat 
    membeli karya seni dan kerajinan.
  3. Pulau Senggarang
    Kunjungi 300 tahun kuil tua di atas pohon beringin.
    Candi lain juga di tangan, Xuan Tian Shang-di, bernama setelah penguasa Cina.
  4. Pulau Penyengat
    15 Menit pergi jauh dari Tanjung Pinang dengan perahu motor sampan bertenaga. 
    Luangkan waktu di 200 tahun yang terawat dengan baik masjid agung Sultan Riau, sebuah istana tua dan makam kerajaan, dan rumah tradisional khas Riau.
  5. Pantai Trikora
    Sebuah pantai di pantai timur dimana pasir putih dan air bersih, tempat yang bagus untuk relaksasi juga. Kunjungi desa nelayan di dekatnya dan bangunan fasilitas tradisional perahu kecil. 
Apa yang harus dilakukan di Bintan
  1. Mountain Biking 
    Itu, tenang jalan berbukit dan terawat dengan baik Bintan ideal untuk bersepeda.
  2. Bintan Gajah Taman 
    Tujuh gajah Sumatera mengisyaratkan Anda ke sebuah petualangan interaktif dengan menawarkan Anda naik ke hutan.
  3. Gunung Bintan Adventure Trek 
    340 meter gunung tinggi Gunung Bintan menawarkan pengunjung pemandangan menakjubkan dari puncak. 
    Hutan hujan Bintan fitur pohon-pohon raksasa dan hewan langka.
  4. Mangrove Discovery Tour 
    Keindahan dan mistik Bintan flora dan fauna

Sejarah Melayu Riau

Kerajaan Melayu Riau, Bagian dari Sejarah Indonesia Atau Malaysia?
Pengakuan bahwa bahasa Melayu yang menjadi teras bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu Riau, secara implisit berarti juga pengakuan tentang adanya satu pusat kekuasaan yang telah memberi ruang dan kesempatan bahasa dan sastra Melayu itu tumbuh dan berkembang sehingga menjadi aspek budaya yang tinggi nilainya. Itu berarti tak lain kesultanan Melayu Riau lah yang menjadi pusat kekuasaan dan pendorong pertumbuhan budaya tersebut.

Bagi masyarakat Melayu, di Riau terutama pengakuan itu tampaknya sangat penting dan melibatkan emosi. Sebab bagaimanapun selama ini, sekalipun bahasa Melayu diakui telah memberikan sumbangan yang tidak ternilai harganya terhadap pengembangan kebudayaan nasional, namun induk yang  membesarkannya hampir tak mendapat tempat yang wajar. Contohnya tak begitu sulit untuk dicari, dan orang cukup melihat buku sejarah nasional Indonesia (Nugroho Notosusanto, Dkk, 1975) yang dianggap sebagai buku babon (standar) bagi penulis sejarah Indonesia. Disitu peranan dan kedudukan Kerajaan Melayu Riau nyaris tak pernah disentuh dan disebut-sebut, bahkan tenggelam dalam kebesaran kekuasaan lain, seperti Aceh.

Lolosnya kerajaan Melayu Riau dari catatan sejarah Nasional itu, kemudian tentu saja menurun ke buku-buku pelajaran sekolah-sekolah yang bersumber dari buku babon tersebut. Di SMPT, atau SMAT misalnya, buku pelajaran sejarah Nasional tak sempat menyebut-nyebut Kerajaan Melayu itu. Apalagi buku pelajaran IPS di sekolah dasar, kecuali yang dipakai di Riau. Mengapa hal demikian bisa terjadi? Apakah sejarah kebudayaan Melayu Riau yang jatuh bangun selama 189 tahun (1722-1911) bukan merupakan bagian sejarah nasional Indonesia, tetapi menjadi bagian sejarah Johor  (Malaysia)? Itulah antara lain pertanyaan-pertanyaan menarik yang sudah bergaung jauh sebelum Seminar Nasional Kebudayaa Melayu  itu berlangsung.

Sayang selama seminar empat hari itu, pernyataan-pernyataan tersebut hampir tak terjawab. Dan ini pun bisa dimaklumi, terutama karena seminar itu bukanlah seminar tentang sejarah, tetapi tentang budaya yang merangkut berbagai hal secara umum. Sehingga, sekalipun dalam kelompok seminar ada kelompok aspek sejarah, tetapi permasalahan yang dibicarakan sangat beragam dan tidak merupakan suatu pembicaraan khusus tentang sejarah politik dan kekuasaan kerajaan-kerajaan yang pernah ada dan memainkan peranannya di kawasan ini. Apalagi cakupan Melayu dalam pengertian seminar tersebut, bukanlah semata-mata terpacu pada Riau, tetapi sedaya upaya ingin merangkum semua kawasan di Indonesia yang merupakan pendukung dari kebudayaan ini.

Pusat Bajak Laut
Dari sebelas makalah tentang aspek sejarah yang diperbincangkan, hanya empat makalah yang secara langsung menyinggung tentang sejarah politik dan kekuasaan kerajaan Melayu di semenanjung, terutama berkaitan dengan Kerajaan Melayu Riau. Salah satu yang cukup mengelitik adalah makalah Dr Onghokham, (UI-Jakarta) yang berjudul “Pemikiran Tentang Sejarah Riau”, sebuah makalah yang tebalnya hanya sembilan halaman.

Dr Onghokham, seperti kebanyakan sejarahwan dari luar Riau, memang masih belum bersedia untuk penegaskan mana yang dimaksud dengan kerajaan Riau itu. Akibatnya selain acuan ruangan dan waktu menjadi sering tidak jelas, juga pengistilahan yang persis tentang kesultanan. Riau itu pun sering berganti-ganti. Kadang-kadang dipakai istilah Kesultanan Riau, kadang-kadang kerajaan Bintan. Kekaburan itu, sama juga dengan penegasan ahli sejarah itu tentang jejak paling jelas dari kesultanan Riau yang dikatakan abad ke-15, berarti hampir bersamaan dengan masa keemasan kerajaan Melayu Malaka (1400-1528). Sedangkan, dalam berbagai penulisan sejarah, terutama oleh sejarahwan Riau dan Malaysia, pengertian Riau itu sendiri baru ada sekitar tahun 1978, ketika Sultan Ibrahim (1677-1685) dari Johor, memindahkan sementara ibukota kerajaannya dari Batu Sawar (Johor) kehulu Riau. Pusat pemerintahan itu kembali ke Johor tahun 1690 pada masa pemerintahan Sultan Mahmudsyah. Bagi kalangan sejarahwan di Riau sekarang ini, Kesultanan Riau baru terwujud tahun 1722, ketika orang-orang Bugis melantik Tengku Sulaiman sebagai Sultan. Bahkan masih ada pendapat lain yang justru mencatat bahwa Kesultanan Riau (yang lebih sering dipakai, Riau-Lingga) baru punya eksitensi politik dan kekuasaan pada saat lahirnya Trakat London (1824), saat wilayah eks Kesultanan Johor dibagi dua. Riau masuk bagian Sultan Riau Lingga dan dibawah pengawasan Belanda dan Singapura dan Johor, menjadi bagian Semenanjung Melaysia di bawah kekuasan Inggris.

Dr Onghokham juga melihat dalam sejarah perkembangannya Kesultanan Riau itu, atau lebih tepat Riau dahulunya itu, dalam percaturan Politik internasional tidak pernah merupakan pusat kekuasaan terpenting atau terbesar. Wilayah itu hanya menjadi pemukiman orang laut dan tempat pelarian raja-raja yang syah, atau dinasti atau wangsa sah sekitarnya digulingkan. Peranan Kesultanan Riau pada tahun-tahun setelah 1511, yaitu sebagai tempat strategis untuk melakukan gerilya laut, seperti untuk menyerang Protugis di Malaka. Sumber-sumber Protugis, menurut Dr Ong, menyebut gerilnya laut yang berpangkat di pulau Bintan itu sebagai bajak laut. Meskipun untuk pengertian ini, Onghokham perlu mengaris bawahi bahwa pada zaman itu, antara perang, politik, perdagangan dan pembajak laut tak banyak bedanya. Aksi Protugis menyerang Malaka 1511 itupun tak lain sama dengan bajak laut. Demikian juga blokade Belanda terhadap Makasar atau Banten abad ke-17.

Tetapi, bagaimanapun, Dr Onghokham membenarkan bahwa dalam soal budaya, Kepulauan Riau tidak kalah dengan sekitarnya. “Dinasti raja-raja Riau mungkin kalah dalam kekuasaan politik dan kalah dalam kekayaan dengan raja-raja sekitarnya. Namun dalam hal budaya mereka tetap unggul”. Begitu kesimpulan Dr Onghokham. Tidak disebutkan faktor apa yang mendorong lahirnya budaya yang unggul itu.

Tampaknya dalam masalah tersebut Dr Onghokham hanya mencoba mengambarkan selintas perkembangan sejarah, di satu kawasan bernama Riau, sebagai salah satu kawasan kerajaan maritim yang dalam pertumbuhannya tenggelam dalam bayang-bayang kebesaran Kesultanan Malaka.

Saham Raja Kecil
Sejarahwan lain yang berbicara dengan acuan yang lebih jelas tentang pengertian Kesultanan Riau itu, adalah Drs Suwardi Ms (UNRI Pekanbaru) dengan makalahnya “Kesultanan Melayu di Riau: Kesatuan dalam Keragaman). Pokok bahasan bukanlah tentang apa dan bagaimana Kesultanan Melayu di Riau itu, melainkan tentang kesatuan dan keragaman pemerintahan dan peranannya dalam menumbuhkan dan mengembangkan nilai-nilai sosial budaya Melayu. Namun, dalam pembicaraan itu pengertian tentang wilayah kesatuaan kekuasaan itu lebih punya batasan dan ruangan serta waktunya.

Suwardi Ms, sejarahwan Riau yang memang sudah cukup banyak mengeluti masalah sejarah yang terjadi dikawasan Riau sekarang ini, memulai pengertian kerajaan-kerajaan Melayu dan berkembang di Riau dari tokoh kontaraversial, Raja Kecil, (Raja Kecik) yang dalam satu perebutan kekuasaan di Kesultanan Johor 1717, berhasil merampas kekuasaan dari tangan Sultan Abdul Jalil Riayatsyah. Raja Kecil, yang dikatakan anak Sultan Johor Mahmudsyah yang mati terbunuh tahun 1699, dan dibesarkan di Minangkabau itu, setelah berhasil merampas tahta kerajaan, kemudian memindahkan kekuasaan itu ke Riau, 1719. Walaupun masa kekuasaan Raja kecil ini di Riau hanya berlangsung empat tahun, namun Suwardi Ms mengganggap Raja kecil sebagi tokoh yang punya andil (saham) besar dalam upaya mewujudkan kembali kesatuan Melayu di Selat Malaka yang dahulu terpecah belah oleh kekuasaan Protugis dan Belanda. Raja kecil yang terusir dari Riau itu, kemudian memilih pusat kekuasaannya yang baru, yaitu Siak,dan kemudian secara bertahap membangun Kesultaanan baru yaitu Kesultanan Siak (1723-1945).

Berdirinya kesultanan Siak, dengan sendirinya mengucapkan pengertian bahwa dikawasan Riau (dalam pengertian geo administrasi sekarang ini) ketika itu, ada dua pusat kekuasaan. Yaitu Riau yang berpusat di Ulu Riau dengan Sultannya Sulaiman Badrul Alamsyah, dan kedua kesultanan Siak dengan penguasanyan Raja kecil. Sekalipun dalam berbagai penulisan, selalu harus ditunjukkan bahwa hulu kedua Kesultanan ini adalah satu, yaitu Kesultanan Johor yang merupakan penerus Malaka. Oleh karenanya banyak juga yang berpendapat bahwa Imperium Melayu di kawasan Semenanjung dan tenggara Asia itu jatuh bangun selama lebih dari lima abad. Dimulai dengan kesultanan Malaka (1400-1528), dilanjutkan Johor (1528-1722), dan ditutup oleh Riau dan Siak yang berakhir tahun 1945. Bahkan mungkin lebih jika dikaitkan dengan munculnya Kesultanan Pahang yang dahulu menurunkan bagian dari wilayah Riau, dan Johor yang kemudian bangkit kembali sesudah Trakat London, 1824.

Namun demikian, dalam kaitan yang lebih khusus, apa yang disebut sebagai Kesultanan Riau itu, adalah eks Kesultanan Johor. Kalau sebelum terjadi perebutan kekuasaan antara keturunan Sultan Malaka dan keturunan Bendahara Tun Habib, Kesultanan Johor itu disebut sebagai Johor, Pahang dan Riau, sesudah perbelahan itu sebutannya menjadi Riau, Johor dan Pahang. Itu bermula dari tahun 1722 saat Sultan Sulaiman dilantik dan menjadikan Riau (dalam hal ini Riau dalam pengertian ibukota dan bukan wilayah) sebagai pusat kekuasaannya. Sementara Johor dan Pahang, keduanya dijadikan daerah pegangan yang masing-masing dikuasai oleh dua Petinggi kerajaan. Johor dibawah seorang Temenggung, dan Pahang  dibawah Bendahara. Tahun 1824, wilayah kekuasaan Riau ini tinggal lagi gugusan pulau Bintan, Lingga, Batam, dan Pulau Tujuh (Natuna). Sedangkan Johor dan Pahang serta Singapura masuk wilayah semenanjung dan berdiri sendiri.

Dipandang dari segi kekuasaan dan kedaulatan sebagai sebuah kerajaan yang merdeka dan berdulat, sebenarnya Kesultanan Riau itu hanya berlangsung tak lebih dari 62 tahun (1722-1784). Sebab, dengan berakhirnya perang Riau (1782-1784) dimana Riau dikalahkan oleh Belanda, maka sejak saat itu Riau sudah sepenuhnya berada dibawah kekuasaan VOC. Dalam perjanjian di atas kapal perang VOC “Utrech”, antara lain disebut bahwa Riau mengakui Belanda sebagai penguasa tertinggi, dan pengantian para Sultan dan Wakil Sultan Harus dengan seizin VOC. Riau ketika itu meskipun punya sultan dan perangkat pemerintahan, toh tak lebih dari sebuah koloni yang dalam pengertian kesombongan VOC disebut sebagai daerah “Anugerah sang ratu dan sebagai pinjaman”. Ketika terjadi peralihan kekuasaan antara Belanda dan Inggris akibat perang Eropa 1795, Riau sempat sekejap menjadi negeri merdeka. Ketika Inggris mengambil alih semua kekuasaan Belanda seperti Malaka, dan negeri-negeri lain di Semenanjung Malaysia, Riau, oleh Inggris dinyatakan bebas dan berarti sendiri. Tetapi akibat berbagi kelemahan pemerintahan ketika itu, Riau kembali jatuh ke dalam kencaman Belanda, 1815, ketika seluruh jajahan Belanda yang diambil alih Inggris dikembalikan.

Tenggelam
Jejak-jejak sejarah yang gelap dan saling berbaur itulah yang kemudian membuat Kesultanan Riau yang secara jelas adanya selama 189 tahun itu, seperti terlepas dari catatan sejarah. Ia seakan tenggelam dalam raupan tentang kebesaran sejarah Johor yang dianggap berlangsung dari 1528 sampai dengan tahun 1824, dan tenggelam dalam pengertian sebuah koloni jajahan Belanda (1824-1913), sebelum akhirnya dihapuskan sama sekali dari daftar administrasi pemerintah kolonial Belanda di Indonesia sebagai daerah kerajaan. Ia hanya menjadi sebuah karesidenan yang kemudian menjadi teras daerah kekuasaan propinsi Riau.

Jejak-jejak sejarah yang tenggelam dalam belukar dan kemudian terus terlupakan itu, bukan cuma diterima oleh Kesultanan Riau, juga Kesultanan Siak. Dalam buku-buku sejarah nasional yang dipelajari di sekolah-sekolah tampaknyaber lawan Sultan Siak terhadap VOC di Guntung dan berhasil membantai habis satu datasemen tentara VOC, tak cukup kuat untuk dicatat. Juga dengan perang Riau 1782-1784 yang menewaskan ribuan- tentara VOC dan menenggelamkan sebuah kapal perang komando VOC “Malaka Walvaren” bersama 300 pasukannya. Padahal dalam berbagai penulisan sejarah asing, seperti buku “Jan Kompeni” (C.R. Boxer, SH-1983) perang tersebut ikut dicatat.

Anti Bugis
Usaha untuk merambas belukar sejarah kerajaan-kerajaan Melayu di Riau itu, bukan tak ada. Di Riau sendiri tahun 1975 sudah ada satu seminar sejarah Riau, yang kemudian tahun 1977 diikuti dengan terbitnya buku “Sejarah Riau” (Mukhtar Luthfi, dkk 1977). Tetapi buku sejarah itu ditangguhkan pengedarannya karena ada bagian isinya yang masih jadi sengketa. Sejak awal buku itu sudak dikencam sebagai kurang obyektif dan banyak mengelapkan fakta sejarah. Dalam pembicaraan tentang Kesultanan Riau misalnya, buku itu dikencam sebagai terlalu “Siak Sentris” dan terlalu “Anti Bugis”.

Peranan yang jernih dari bangsawan dan pengusaha Melayu keturunan Bulgis, disulap demikian rupa dan tenggelam oleh berbagi figur keturunan Melayu asli yang sebenarnya tidak begitu amat menonjol. Upaya untuk mengangkat figur Raja Kecik sebagi tokoh utama pemersatu kekuatan dan kekuasaan orang Melayu setelah Malaka runtuh dan Johor tumbang, membuat penulis sejarah tersebut jadi berat sebelah.

Kepincangan dalam penulisan itu, tampaknya ada kaitan dengan upaya melawan berbagai penulisan sejarah yang sudah ada, terutama hasil kerja para penulis dari Kesultanan Riau sendiri, seperti Raja Ali Hajji dengan Tuhfat Annavis, juga terhadap silsilah Melayu Bugis, yang dianggap terlalu “Bugis sentris” pula dan mengenyampingkan sama sekali hasil kecermelangan beberapa tokoh keturunan Melayu, serta serta menyudutkan figur Raja Kecik sebagai “Si Pembuat Onar”

Sayang pertemuan ilmiah yang sudah memilih aspek sejarah sebagai salah satu masalah yang jadi bahasan, tidak sempat menampilkan penulisan tentang sejarah kesultanan-kesultanan Melayu di Riau dan jernih, sehingga belukar sejarah yang sudah semak samun itu menjadi agak lebih terang. Ada beberapa makalah lain, seperti sejarah Kesultanan Melayu di Sumatera Timur (Tengku Lukman Sinar SH, Medan), tetapi amat sedikit menyentuh tentang Kesultanan Riau yang dianggap sebagai sumber pembentukan bahasa Melayu tinggi itu

Pantun Melayu Kelasik

Sirih berlipat sirih pinang
Sirih dari Pulau Mutiara
Pemanis kata selamat datang
Awal Bismillah pembuka bicara


Tetak buluh panjang suluh
Mari jolok sarang penyengat
Angkat doa jari sepuluh
Doa minta biar selamat


Tuailah padi antara masak
Esok jangan layu-layuan
Intailah kami antara nampak
Esok jangan rindu-rinduan


Hendak dulang diberi dulang
Dulang berisi sagu mentah
Hendak pulang ku beri pulang
Tinggalkan pantun barang sepatah


Lancang kuning lancang pusaka
Nampak dari Tanjung Puan
Kalau kering laut Melaka
Barulah saya lupakan tuan


Asam kandis mari dihiris
Manis sekali rasa isinya
Dilihat manis dipandang manis
Lebih manis hati budinya

Ayam hutan terbang ke hutan
Tali tersangkut pagar berduri
Adik bukan saudara bukan
Hati tersangkut kerana budi


Ayam rintik di pinggir hutan
Nampak dari tepi telaga
Nama yang baik jadi ingatan
Seribu tahun terkenang juga


Bila memandang ke muka laut
Nampak sampan mudik ke hulu
Bila terkenang mulut menyebut
Budi yang baik ingat selalu


Burung Serindit terbang melayang
Mari hinggap di ranting mati
Bukan ringgit dipandang orang
Budi bahasa rangkaian hati


Bukan lebah sebarang lebah
Lebah bersarang di pohon kayu
Bukan sembah sebarang sembah
Sembah adat pusaka Melayu


Bukan lebah sebarang lebah
Lebah bersarang di rumpun buluh
Bukan sembah sebarang sembah
Sembah menyusun jari sepuluh


Laksamana berempat di atas pentas
Cukup berlima dengan gurunya
Bagaikan dakwat dengan kertas
Sudah berjumpa dengan jodohnya


Membeli papan di tengah pekan
Papan kecil dibuat tangkal
Mengapa umpan ikan tak makan
Adakah kail panjang sejengkal


Rumah limas anjung Selatan
Bunga kemuning tumbuh di laman
Tangkainya emas bunganya intan
Bolehkah ranting hamba patahkan


Tumbuh betik di tepi laman
Pokok berangan pokok teruntum
Sungguh cantik bunga di taman
Bolehkah gerangan petik sekuntum


Asam kandis asam gelugur
Ketiga asam si riang-riang
Menangis mayat di pintu kubur
Teringat badan tidak sembahyang


Baik-baik menanam selasih
Jangan menimpa sipohon sena
Baik-baik memilih kekasih
Jangan sampai badan merana


Baik-baik mengail tenggiri
Takut terkena siikan parang
Baik-baik merendah diri
Jangan menjadi hamba orang


Bintang tujuh sinar berseri
Bulan purnama datang menerpa
Ajaran guru hendak dicari
Mana yang dapat janganlah lupa


Buah mangga melendur tinggi
Buah kuini berangkai tiga
Hidup kita tidur dan mati
Sudah mati baru terjaga


Buat bangsal di Pulau Daik
Menahan taut sambil mengilau
Kalau asal benih yang baik
Jatuh ke laut menjadi pulau


Budak-budak bermain tombak
Tombak diikat dengan rantai
Kalau takut dilambung ombak
Jangan berumah di tepi pantai


Halia ini tanam-tanaman
Ke barat juga akan condongnya
Dunia ini pinjam-pinjaman
Akhirat juga akan sungguhnya


Hari panas mencucuk benang
Benang menjahit baju kebaya
Air jernih lubuknya tenang
Jangan disangka tiada buaya


Kalau tahu peria tu pahit
Tidak ku gulai dengan petola
Kalau tahu bercinta tu sakit
Tidak ku mulai dari semula


Kalau tuan pergi ke Kelang
Belikan saya semangkuk rojak
Jangan diturut resmi kiambang
Sungguhpun hijau akar tak jejak


Pisang kelat digonggong helang
Jatuh ke lubuk di Indragiri
Jika berdagang di rantau orang
Baik-baik menjaga diri


Asap api embun berderai
Patah galah haluan perahu
Niat hati tak mahu bercerai
Kehendak Allah siapa yang tahu


Air dalam bertambah dalam
Hujan di hulu belumlah teduh
Hati dendam bertambah dendam
Dendam dahulu belumlah sembuh
**********
Anak punai anak merbah
Hinggap ditonggak mencari sarang
Anak sungai lagikan berubah
Inikan pula hati orang


Apa guna pasang pelita
Jika tidak dengan sumbunya
Apa guna bermain kata
Kalau tidak dengan sungguhnya


Buah kuini jatuh tercampak
Jatuh menimpa bunga selasih
Biar bertahun dilambung ombak
Tidak ku lupa pada yang kasih


Kajang tuan kajang berlipat
Kajang hamba mengkuang layu
Dagang tuan dagang bertempat
Dagang hamba terbuang lalu


Buah jambu disangka kandis
Kandis ada di dalam cawan
Gula madu disangka manis
manis lagi senyuman tuan


Dari Arab turun ke Aceh
Naik ke Jawa berkebun serai
Apa diharap pada yang kasih
Badan dan nyawa lagi bercerai


Bunga Melati terapung-apung
Bunga rampai di dalam puan
Rindu hati tidak tertanggung
Bilakah dapat berjumpa tuan


Burung Merak terbang ke laut
Sampai ke laut mengangkut sarang
Sedangkan bah kapal tak hanyut
Inikan pula kemarau panjang


Bunga Melur kembang sekaki
Mari dibungkus dengan kertas
Di dalam telur lagi dinanti
Inikan pula sudah menetas


Dalam perlak ada kebun
Dalam kebun ada tanaman
Dalam gelak ada pantun
Dalam pantun ada mainan


Dari Jawa ke Bengkahulu
Membeli keris di Inderagiri
Kawan ketawa ramai selalu
Kawan menangis seorang diri

Dari teluk pergi pangkalan
Bermain di bawah pohon kepayang
Saya umpama habuk di papan
Ditiup angin terbang melayang


Daun selalsih di Teluk Dalam
Batang kapas Lubuk Tempurung
Saya umpama si burung balam
Mata terlepas badan terkurung


Orang Melayu naik perahu
Sedang berdayung hujan gerimis
Hancur hatiku abang tak tahu
Mulut tertawa hati menangis


Orang tani mengambil nipah
Hendak dibawa ke Indragiri
Seluruh alam ku cari sudah
Belum bersua pilihan hati


Pasir putih di pinggir kali
Pekan menyabung ayam berlaga
Kasih tak boleh dijual beli
Bukannya benda buat berniaga


Ribu-ribu pokok mengkudu
Cincin permata jatuh ke ruang
Kalau rindu sebut namaku
Airmata mu jangan dibuang


Kalau roboh kota Melaka
Sayang selasih di dalam puan
Kalau sungguh bagai dikata
Rasa nak mati di pangkuan tuan


Limau purut lebat di pangkal
Batang mengkudu condong uratnya
Hujan ribut dapat ditangkal
Hati yang rindu apa ubatnya


Kalau menyanyi perlahan-lahan
Dibawa angin terdengar jauh
Rindu di hati tidak tertahan
Di dalam air badan berpeluh


Ku sangka nanas atas permatang
Rupanya durian tajam berduri
Ku sangka panas hingga ke petang
Rupanya hujan di tengahari


Kayuh perahu sampai seberang
Singgah bermalam di kampung hulu
Bukan tak tahu dunia sekarang
Gaharu dibakar kemenyan berbau


lembing atas tangga
perisai atas busut
kening atas mata
misai atas mulut


anak ikan dipanggang sahaja
hendak dipindang tidak berkunyit
anak orang dipandang sahaja
hendak dipinang tiada berduit


saya tak hendak berlesung pauh
lesung pauh membuang padi
saya tak hendak bersahabat jauh
sahabat jauh merisau hati


burung serindit terbang melayang
singgah dihinggap di ranting mati
duit ringgit dipandang orang
jarang dipandang bahasa budi


batu sangkar batu berpahat
terpahat nama raja bestari
makanan arif, kias ibarat
pantun seloka, ulam jauhari


daun durian jatuh tercampak
lopak-lopak isi selasih
tujuh tahun dilambung ombak
tiada kulupa hati yang kasih


Anak Cik Siti mencari tuba
Tuba dicari di Tanjung Jati
Di dalam hati tidakkan lupa
Bagai rambut tersimpul mati


Limau purut di luar pagar
Rimbun putik dengan bunganya
Hujan ribut padang terbakar
Embun setitik padam apinya


Puas saya bertanam ubi
Nanas jugak dipandang orang
Puas saya menabur budi
Emas juga dipandang orang


Tenang-tenang air di laut
Sampan kolek mudik ke tanjung
Hati terkenang mulut menyebut
rindu kini tiada penghujung


Tinggi-tinggi pohon jati
Tempat bermain simanja sayang
Sungguh tinggi harga budi
Budi dibalas kasih dan sayang

Bunga Tanjung kembang semalam
Pohon tinggi tidak berduri
Gelombang besar di laut dalam
Kerana Tuan saya kemari
**********
Burung merpati terbang seribu
Hinggap seekor di tengah laman
Hendak mati di hujung kuku
Hendak berkubur di tapak tangan
**********
Dari mana hendak ke mana
Tinggi rumput dari padi
Hari mana bulan mana
Dapat kita berjumpa lagi
**********
Padi ini semumba-mumba
Daun kurma daun cempedak
Macam mana hati tak hiba
Entah bertemu entah tidak
**********
Permata jatuh ke rumput
Jatuh ke rumput berbilang-bilang
Dari mata tidakkan luput
Dalam hati tidakkan hilang
**********
Akar keladi melilit selasih
Selasih tumbuh di hujung taman
Kalungan budi jujungan kasih
Mesra kenangan sepanjang zaman
**********
Ayam rintik di pinggir hutan
Nampak dari tepi telaga
Nama yang baik jadi ingatan
Seribu tahun terkenang juga
**********
Anak beruk di tepi pantai
Pandai melompat pandai berlari
Biar buruk kain dipakai
Asal hidup pandai berbudi
**********
  Kiri jalan kanan pun jalan
Tengah-tengah pohon mengkudu
Kirim jangan pesan pun jangan
Sama-sama menanggung rindu
**********
Mendung si mega mendung
Mendung datang dari utara
Jangan selalu duduk termenung
Kalau termenung badan merana
**********
Pohon mengkudu tumbuhnya rapat
Rapat lagi pohon jati
Kawan beribu mudah didapat
Sahabat setia payah dicari
**********
Pokok terap tumbuh di bukit
Belat berbanjar panjang ke hulu
Jangan diharap guruh di langit
Kilat memancar hujan tak lalu
**********
Sampan kotak hilir mudik
Dayung patah galah sebatang
Ikhtiar tidak datang menggolek
Akal tidak datang melayang
**********
Siti Wan Kembang perintah Kelantan
Nama termasyhur zaman dahulu
Baik-baik memilih intan
Takut terkena kaca dan batu
**********
Buah langsat kuning mencelah
Senduduk tidak berbunga lagi
Sudah dapat gading bertuah
Tanduk tidak berguna lagi
**********
Dua paya satu perigi
Seekor bujuk anak haruan
Tuan di sana saya di sini
Bagai pungguk rindukan bulan
**********
Gesek rebab petik kecapi
Burung tempua membuat sarang
Apa sebab jadi begini
Karam berdua basah seorang ?
**********
Hendak gugur gugurlah nangka
Jangan menimpa putik pauh
Hendak tidur tidurlah mata
Jangan mengenang si dia yang jauh
**********
Kain batik negeri seberang
Dipakai anak Tanah Melayu
Apa ertinya kasih dan sayang
Kalaulah abang berjanji palsu
**********
Pantai Cendering pasirnya putih
Anak dagang berulang mandi
Apa disesal orang tak kasih
Sudah suratan diri sendiri
**********
Disana pauh di sini pun pauh
Daun mengkudu ditandungkan
Adinda jauh kekanda jauh
Kalau rindu sama tanggungkan
**********
Pulau Tinggi terendak Cina
Nampak dari Pulau Sibu
Abang pergi janganlah lama
Tidak kuasa menanggung rindu
**********
Putik pauh delima batu
Anak sembilang di tapak tangan
Tuan jauh di negri satu
Hilang di mata di hati jangan

Agama dan Pantun Melayu

Agama dan Pantun Melayu

ros
sekadar hiasan
Mengungkap kembali makna atau maksud pantun.
Pantun dalam erti kata lain ialah alat ekspresi bagi kehidupan, khususnya berunsurkan pengajaran dan nasihat. Di sini penulis ingin bercerita tentang tema pantun agama dan mengajak pembaca memahami hubungan agama dalam pantun Melayu.
Persoalan agama diungkapkan dalam pantun yang bertemakan hukum-hakam, tauhid, amalan syariat, rukun iman dan rukun islam yang bersifat kerohanian dan menjurus ke alam akhirat. Manakala pantun yang mengarah kepada pembinaan peribadi melalui aturan budi dan nilai-nilai murni adalah termasuk dalam pantun moral.
Menurut Bazrul Bahaman dalam kertas kerjanya, “Pantun sebagai Alat Pengucapan Agama Masyarakat Nusantara”, sikap orang Melayu yang suka berselindung dan menyampaikan sesuatu secara indah menyebabkan pantun muncul sebagai alat pengucapan agama yang mempunyai peranan yang penting dalam menyampaikan ajaran Islam.
Contoh pantun agama:-
1.
Asamnya kandis asam gelugur,
Ketiganya dengan asam remenia,
Nyawa menangis di pintu kubur,
Hendak kembali ke dalam dunia.
2.
Serindit terbang rendah,
Terbang mari menyonsong angin,
Siapa tauhid kepada Allah,
Masuk syurga jannatunnaim.
3.
Sirih dagang tumbuh di batu,
Buluh hutan buatkan galah,
Kasih sayang tak boleh tentu,
Jodoh pertemuan di tangan Allah.
4.
Asap api embun berderai,
Patah galah haluan perahu,
Hajat hati tak mahu bercerai,
Kehendak Allah siapa yang tahu.
5.
Berapa lebat bunga rumia,
Lebat lagi bunga pegaga,
Betapa hebat pakaian dunia,
Hebat lagi pakaian syurga.
6.
Baik berburu ke seberang,
Rusa banyak di dalam rimba,
Baik berguru kita sembahyang,
Dosa banyak dalam dunia.
Antara topik penting lain termasuklah sembahyang. Sembahyang sebagai ibadah amat penting dan sering disebut-sebut dalam ajaran Islam. Bagi orang Islam, tidak ada gunanya kejayaan yang dicapai jika tidak ingat kepada Allah dengan bersembahayang.
Contoh pantun yang mengingatkan umat Islam supaya tidak meninggalkan sembahyang;
1.
Sebatang pohon daunnya rimbun,
Lebat daunnya tiada buahnya,
Walaupun hidup seribu tahun,
Kalau tak sembahyang apa gunanya.
2.
Malam ini malam Jumaat,
Pasang lilin depan pintu,
Kalaulah kita umat Muhammad,
Kena sembahyang lima waktu.

Sepohon kayu, daunnya rimbun,
Lebat bunganya serta buahnya,
Walaupun hidup seribu tahun,
Kalau tak sembahyang apa gunanya.
Kami bekerja sehari-hari,
Untuk belanja rumah sendiri,
Walaupun hidup seribu tahun,
Kalau tak sembahyang apa gunanya.
Kami sembahyang fardu sembahyang,
Sunatpun ada bukan sembarang,
Supaya Allah menjadi sayang,
Kami bekerja hatilah riang.
Kami sembahyang limalah waktu,
Siang dan malam sudahlah tentu,
Hidup dikubur yatim piatu,
Tinggalah seorang dipukul dipalu.
Dipukul dipalu sehari-hari,
Barulah dia sedarkan diri,
Hidup didunia tiada bererti,
Akhirat disana sangatlah rugi.

Antara Adat dan Agama

Antara Adat dan Agama, Satu Penilaian

Dalam khutbah Nabi Muhammad yang terakhir, baginda telah bersabda “Telah sempurna agama Islam untuk kamu dan aku reda agama Islam itu agama kamu”. Ini jelas menunjukkan bahawa agama Islam adalah agama yang sudah lengkap dan merangkumi setiap aspek kehidupan manusia.
Ketika Islam tersebar luas di Semenanjung Arab hingga ke Eropah dan juga ke Asia, maka banyaklah mubaligh-mubaligh Islam dari kalangan orang-orang Arab dan bukan Arab yang datang membawa agama Islam ke sebelah Asia Tenggara sebagai pedagang menyebabkan Islam mula bertapak dan berkembang pesat. Seperti contoh, Melaka menjadi pusat perdagangan yang mahsyur dan kerajaan Melaka adalah kerajaan Islam.
Bermula dari itu, timbullah perkahwinan campur dari pelbagai kaum antara Melayu tempatan dengan pedagang-pedagang Arab dan India. Kepelbagaian kaum yang wujud hasil dari perkahwinan campur ini banyak mempengaruhi dan menjadikan adat resam masyarakat Melayu pada ketika itu begitu unik dan bercampur aduk dengan adat atau budaya bangsa pendatang selain bangsa Melayu itu sendiri.
Adat ini dibawa dari generasi ke generasi sehinggalah ke hari ini. Jika P.Ramlee dalam lagunya, menyatakan irama dan lagu tidak boleh dipisahkan, jika dipisahkan, rosaklah lagu pincanglah irama. Maka, begitu jugalah adat dengan agama.
Adat dan agama bukanlah dua isu yang berbeza, bahkan keduanya adalah satu. Adat didefinasikan sebagai pola kehidupan manusia dalam kelompok yang dibentuk, dihayati dan diamalkan dalam hubungan sesama anggota kelompok.
Adat dibuat dan ditentu oleh manusia, manakala budaya atau adat resam terus mengalami perubahan, baik dari sudut geografi (seperti adat perpatih, dan temenggung), waktu (seperti adat primitif dan masa kini), status sosial (bangsawan atau rakyat), mahupun usia (adat orang tua dan muda). Adat seharusnya berlandaskan kepada agama yang benar.
kahwin
gambar hiasan - sumber dari ehoza.com
Masyarakat Melayu di Malaysia sinonimnya dikaitkan dengan Islam. Masyarakat Melayu Islam seharusnya tidak keliru di antara adat dan agama supaya nanti tiada yang mengatakan adat yang bercanggah dengan Islam itu adalah salah satu dari tradisi agama Islam.
Adat resam Melayu berkait dengan cara hidup Melayu itu sendiri, dari mula lahir seseorang anak hinggalah anak itu berkahwin dan seterusnya berakhir dengan kematian.
Agama Islam seharusnya membimbing adat resam atau budaya Melayu supaya berlandaskan agama dan tidak mengamalkan kepercayaan karut, khurafat dan syirik kepada tuhan.
Dalam konteks aqidah, khurafat bermaksud bidaah aqidah yang merupakan kepercayaan kepada sesuatu yang menyalahi syariat yang dibawa oleh Rasulullah S.A.W.
Ia juga boleh diertikan sebagai amalan yang tidak mempunyai hakikat kebenaran. Selain itu ia merupakan perkara tahyul yang pada kebiasaannya tidak boleh diterima oleh akal. Seseorang itu boleh dianggap mengamalkan perkara yang khurafat apabila ia berpegang dan beriktiqad dengan perkara-perkara yang bukan daripada ajaran Islam, tidak munasabah dan tidak dapat diterima oleh akal yang waras.
Masyarakat Melayu Islam wajib mempercayai bahawa Islam merupakan agama yang suci daripada segala sesuatu yang tidak berfaedah dan Islam juga tidak menghendaki umatnya hidup dalam dunia khayalan atau berbuat sesuatu yang karut lebih-lebih lagi sekiranya ia bertentangan dengan Al-Quran dan As-Sunnah.
Firman Allah S.W.T.:
Maksudnya : Syaitan itu menjanjikan kepada kamu kefakiran dan menyuruh kamu dengan kejahatan, tetapi Allah menjanjikan kamu dengan keampunan daripada-nya dan kelebihan dan Allah maha luas pengetahuannya.
(Al-Baqarah ayat 268)
Ayat ini mengingatkan bahawa matlamat syaitan adalah untuk memperdaya dan mengelirukan manusia. Kepercayaan terhadap khurafat amat besar kesannya kepada umat Islam kerana ia akan merosakkan aqidah hingga boleh membawa kepada kekufuran dan syirik kepada Allah S.W.T.
Kepercayaan kepada perkara-perkara khurafat seperti kuasa penyakit berjangkit, perkara kepada burung hantu boleh membawa keburukan, atau bala’ bulan safar dan lain-lain adalah satu anggapan buruk dan bidaah yang keji serta wajib dihindari oleh umat Islam.
Sabda Rasulullah S.A.W :
Maksudnya : Tiada jangkitan, tiada sial, tiada kemudharatan burung hantu, tiada bala bulan safar dan larilah engkau dari orang yang berpenyakit kusta seperti engkau lari dari singa.
(Riwayat Bukhari)
Sesuatu bala’ atau musibah tidak akan terjadi kepada manusia kecuali dengan kehendak Allah S.W.T. disamping sebab musabab kejadian tersebut.
Namun begitu, ada kalangan sesetengah masyarakat Islam yang masih mengamalkan amalan berbentuk khurafat seperti mandi safar untuk menolak bala dan membersihkan dosa, menyembah pantai untuk meminta agar mereka selamat apabila berada dilautan, kepercayaan sesetengah orang tentang adanya sial seperti biawak yang melintasi seseorang atau masuk ke dalam rumah dikatakan kecelakaan akan menimpa, adalah karut semata-mata.
Begitu juga dengan menepung tawar untuk menolak bala. Semua itu adalah kepercayaan khurafat yang mesti dihapuskan.
Dari aspek psikologi pula, sesiapa yang mempercayai khurafat fikirannya tidak bebas dan berkembang kerana dibelenggu perasaan takut melanggar batas-batas dan kepercayaan turun menurun.
Ia boleh menyebabkan seseorang itu lemah akal dan imannya kerana kepercayaan terhadap amalan khurafat tersebut telah menafikan kepercayaan kepada konsep qada dan qadar Allah S.W.T. selain itu, ia boleh menjadikan seseorang itu malas berusaha, mudah putus asa, tidak bertawakal kepada Allah S.W.T. dan tidak yakin untuk menghadapi cabaran dan dugaan hidup.
Antara faktor yang mempengarui wujudnya amalan khurafat dalam masyarakat Melayu Islam adalah kerana kurangnya pengetahuan agama dimana sesetengah masyarakat Melayu Islam tidak mempunyai pegangan yang kuat terhadap agama Islam kerana masih mencampuradukkannya dengan kepercayaan-kepercayaan karut yang diterima turun-temurun dari nenek moyang. Oleh itu, masyarakat Melayu Islam sepatutnya sedar dan insaf dan kembali kepada Allah S.W.T. dan rasulnya dengan merujuk kepada Al-Quran dan As-Sunnah.
Di samping itu, masyarakat Melayu Islam mestilah memperkukuhkan keimanan kepada Allah S.W.T. dengan menolak kepercayaan yang bertentangan dengan ajaran Islam. Tiada konsep sial atau bertuah kerana orang yang beriman dan menurut perintah Allah dan rasulnya itulah orang yang bertuah, manakala orang yang ingkar dan tidak taat kepada Allah S.W.T. adalah orang yang akan mendapat kecelakaan.
Bulan Safar adalah salah satu bulan di antara bulan-bulan Islam yang sama dengan bulan-bulan yang lain, tiada bala’ atau sial dalam bulan Safar.
Banyak adat resam masyarakat Melayu yang boleh dikupas satu persatu mengikut penilaian agama, dan jika dinilai dari sudut agama Islam, banyak yang telah lari dan terpesong.
Persoalannya kenapakah masih ada masyarakat Melayu Islam yang masih lagi mengamalkan adat resam yang nyata bercanggah dengan agama Islam yang dianuti? Pepatah ada mengatakan bahawa “biar mati anak, jangan mati adat”, begitu sekali ungkapan yang diberi menunjukkan bahawa adat resam telah sebati dalam pemakaian kehidupan harian masyarakat Melayu sehinggakan ada yang tidak dapat membezakan yang mana satu baik atau buruk untuk amalan seharian.
Cukup sekadar perbincangan dan insya Allah penulis akan mengupas adat resam yang lain untuk artikel yang akan datang. Wasalam.

Sirih dan Pinang dalam Adat Resam Melayu

Sirih dan Pinang dalam Adat Resam Melayu

sirih
Sirih dan Pinang - gambar hiasan
Dalam beberapa dekad yang lalu, zaman kegemilangan kesultanan dan raja-raja Melayu masih begitu akur dan taat kepada adat resam serta budaya yang tidak boleh dipisah. Sirih dan pinang berperanan penting dalam upacara, adat resam dan budaya semasa, masyarakat Melayu ketika itu.
Sirih dan pinang merupakan perkakasan penting dan menjadi satu kemestian dalam perkembangan budaya yang telah diwarisi sejak turun-temurun. Dari aspek perkembangan budaya, sirih digunakan secara meluas sejak dahulu lagi, menjadi simbol kebudayaan dan masih lagi menjadi segmen penting dalam adat istiadat budaya Melayu hari ini.
Pengunaan sirih dan pinang merangkumi aspek kebudayaan Melayu seperti seperti memakan sirih, perkahwinan, adat resam dan adat istiadat sehinggalah kepada penggunaan dalam perubatan tradisional.
Asal-usul
Tradisi makan sirih merupakan warisan budaya silam, melebihi 3,000 tahun yang lampau dan diamalkan dengan meluas di rantau Asia Tenggara, hingga ke abad ini. Pengamalnya terdiri dari pelbagai golongan masyarakat termasuk pembesar negara, raja serta kalangan istana dan tidak ketinggalan juga kanak-kanak.
Tradisi ini tidak dapat dipastikan dari mana asalnya. Kemungkinan besar tradisi ini berasal dari India, berdasarkan cerita-cerita sastera. Jika diambil bukti dari sumber linguistik pula, kemungkinan besar tradisi ini berasal dari kepulauan Indonesia. Pelayar terkenal Marco Polo di abad ketiga belas telah menulis dalam catatannya bahawa terdapat segumpal sentil atau songel tembakau dimulut kaum India. Kenyataan ini dijelaskan juga oleh penjelajah terdahulu daripadanya seperti Ibn Batuta dan Vasco Da Gama yang menyatakan terdapat masyarakat di sebelah Timur memakan sirih.
Sementara di Malaysia, tradisi ini dikatakan mungkin bermula tanpa pengaruh luar. Masyarakat India menyatakan bahawa sirih pada mulanya bukan untuk dimakan, tetapi adalah sebagai bahan persembahan sewaktu sembahyang di kuil-kuil sahaja. Beberapa daun sirih akan dihidangkan bersama-sama sebelah kelapa yang telah dibelah dua berserta dua biji pisang emas sebagai persembahan untuk dewa.
Kini sirih menjadi popular dikalangan masyarakat Melayu, selain dimakan, sirih juga digunakan sebagai simbol adat resam dan adat istiadat Melayu. Sirih junjung dihias cantik sebagai sebahagian barangan hantaran pengantin dan penyeri kepada pengantin perempuan. Sirih juga didapati digunakan dalam upacara rasmi kebesaran istana dan kerajaan.
Pengunaan
Penggunaan sirih dan pinang boleh dilihat dalam pelbagai aspek kehidupan masyarakat.
Makanan
Selepas penat mengerjakan bendang atau menuai padi, petani kebiasaannya memakan sirih sambil berbual-bual. Para nelayan pula membawa bekal sirih dan pinang semasa turun ke laut untuk menangkap ikan. Di dalam sejarah, para raja di istana memakan sirih sebagai santapan waktu rehat.
Adat Istiadat
Sirih dan pinang memainkan peranan penting di dalam adat istiadat Melayu terutamanya dalam perkahwinan, bermula dari waktu merisik, pertunangan, menikah, bersanding dan beradu.
Simbol dan pengantara
Orang Melayu terutama di zaman dahulu sangat tertib dan halus dalam berkomunikasi. Sirih digunakan sebagai:-
  1. Hadiah ibu bapa kepada guru Al-Quran, sebagai tanda menyatakan keikhlasan hati menyerahkan anak-anak mereka mengaji dibimbing oleh guru tersebut.
  2. Sirih Perangsang menyemarak semangat dan menenang hati kepada perajurit ketika berperang.
  3. Mengundang seseorang ke majlis, tepak sirih dihulur, jika sirih dimakan ia menandakan undangan tersebut diterima.